Oktober 4, 2008 pada 10:24 am (Anwar Holid, Buku, Gemar-Membaca, Resensi)
Tags: Puisi
Oleh: Anwar Holid
Jantung Lebah Ratu (Himpunan Puisi), Penulis: Nirwan Dewanto, Penerbit: GPU, 2008, Tebal: 94 hal.
ISBN: 978-979-22-3666- 8
Seorang kawan menghadiahi Jantung Lebah Ratu, buku puisi karya Nirwan Dewanto (ND). Tentu saya senang. Dulu, persis saat buku itu terbit kira-kira pada bulan Mei, saya sangat antusias kapan kira-kira bisa baca, bahkan kalau bisa memilikinya. Rumah Buku, perpustakaan favorit saya, sebenarnya segera mengoleksi himpunan puisi tersebut, tapi entah kenapa saya tak sempat juga meminjamnya. Ternyata buku itu sedang dipinjam anggota lain ketika saya ingin membacanya. Seorang teman sealma mater ND yang saya tahu langsung beli buku itu saya tanya, seperti apa sih puisi-puisi dia? Dia menjawab samar, “Yah, begitulah. Khas Nirwan, agak-agak susah dipahami dan berbau filsafat.” Sementara waktu kawan yang menghadiahi buku itu saya tanya kenapa memberikan buku itu, dia menjawab tanpa pretensi, “Hm… susah ya. Mungkin puisinya bukan selera saya. Kurang nikmat bacanya.”
Nirwan Dewanto merupakan penulis dengan reputasi terkemuka di Indonesia. Dia menulis esai budaya dengan beragam subjek, termasuk kritik buku, menjadi salah satu eksponen posmodern paling awal di Indonesia, ikut mendirikan jurnal Kalam (yang merayakan posmodern secara besar-besaran) , bergabung dengan Teater Utan Kayu (TUK), dan sudah menulis puisi sejak lama. Boleh dibantah, peristiwa yang membuat namanya melambung ialah ketika dia jadi salah satu pembicara kunci di Kongres Kebudayaan 1991; dia membawakan makalah berjudul Kebudayaan Indonesia: Pandangan 1991. Esai ini pula yang jadi andalan pada buku pertamanya, Senjakala Kebudayaan (Bentang, 1996)—sebuah buku yang kini sudah turun dari rak toko umum dan hanya bisa ditemui kembali di perpustakaan seperti Rumah Buku. Baca entri selengkapnya »
1 Komentar
Oktober 4, 2008 pada 10:08 am (Book Reviews, Buku, Gemar-Membaca, Resensi, Uncategorized)
Tags: Bagdad
A West Pointer’s diary of his year in Baghdad.
Sumber : The Christian Science Monitor via Yahoo! Alert, By Theo Lippman Jr. | September 24, 2008 edition
Col. Peter R. Mansoor was sworn in to lead the Ready First Combat Team in two districts of Baghdad in July 2003. It was a time when Iraqi politicians were squabbling over how to create a democratic civilian government.
And it was a time of growing insurgency and terrorism. His 3,500-strong command was charged with dealing with both problems.
A West Pointer with a PhD, he decided to keep “a journal and dutifully logged daily entries that provide a first hand, immediate perspective of events as they unfolded.”
Later he added to it from interviews, newspaper accounts, after-action reports, etc.
The result was Baghdad at Sunrise: A Brigade Commander’s War in Iraq. Baca entri selengkapnya »
Tinggalkan sebuah Komentar
September 28, 2008 pada 1:50 pm (Buku, Harian Kompas, Resensi)
Tags: Buku Baru
Sumber : Kompas Minggu, 28 September 2008 | 03:00 WIB
Oleh A PRASETYANTOKO
Buku ini menarik karena ketika ditulis pada 1986 nyaris tidak diperhatikan orang. Di-”kemas ulang” dalam terbitan baru tahun 2008, justru pemikirannya kemudian dianggap sangat relevan dengan situasi akhir-akhir ini, saat pasar finansial mengalami gejolak drastis.
Henry Kaufman, tokoh pasar modal kontemporer, memberi kata pembuka yang menegaskan relevansi pemikiran Minsky di hari ini. Demikian pula dua pengikut pemikirannya, Dimitri B Papadimitiou dan L Randall Wray, memberikan kontekstualisasi yang sangat tajam terhadap pemikiran Minsky.
Apa esensi pemikiran di dalam buku ini? Berbeda dengan pemikir di zamannya, Minsky mengajukan argumen pokok, instabilitas finansial sebenarnya berasal dari dalam dirinya sendiri (endogen) dan bukan dari luar (eksogen). Secara lebih eksplisit dia jelaskan, kekacauan ekonomi atau finansial bukanlah karena perang, kenaikan harga minyak, huru-hara sosial politik atau bencana alam. Tetapi karena sifat alamiahnya yang spekulatif. Baca entri selengkapnya »
Tinggalkan sebuah Komentar
September 28, 2008 pada 1:30 pm (Gemar-Membaca, Harian Kompas, Sejarah)
Tags: SEJARAH DI MENTOK
Sumber : Kompas Senin, 22 September 2008 | 03:00 WIB
Tugu Bung Hatta di depan Pesanggrahan Mentok, terletak di pusat kota Mentok, Kabupaten Bangka Barat. Di
rumah itulah Bung Karno menghabiskan sebagian besar waktu saat diasingkan tahun 1949. Pesanggrahan itu kini menjadi penginapan.”Nak, kita harus berjuang terus. Pantang mundur!” Kalimat itu membekas dalam ingatan RA Indrawati (79) kendati diucapkan 59 tahun silam oleh Ir Soekarno. Kata-kata presiden pertama RI yang diasingkan ke Bangka itulah yang mengobarkan semangat Indrawati untuk terus berjuang mengusir Belanda yang hendak menguasai kembali Indonesia.
Indrawati—pekerja palang merah TKR di Mentok—tidak sendiri. Masyarakat Residentie Banka Belliton en onderhorigheden alias Keresidenan Bangka Belitung waktu itu begitu bersemangat mempertahankan kemerdekaan. Kehadiran sejumlah negarawan ke tempat yang disebut pengasingan meninggalkan sebuah kesan tersendiri, terutama bagi warga Bangka, terlebih yang berdomisili di Mentok. Baca entri selengkapnya »
& Komentar
September 19, 2008 pada 10:01 am (Buku, Penerbit Mizan)
Tags: Ummul Kitab
HIDUP DI PUSARAN AL-FATIHAH: Mengungkap Keajaiban Konstruksi Ummul Kitab (Hard Cover)
Penulis: Muhammad Muhyidin Jumlah Halaman: 404 Harga: Rp 99.500
Di dalam ayat-ayatnya yang ringkas dan padat, terkandung rahasia-rahasia yang amat dalam dan luas. Dan salah satu rahasia Surah Al-Fâtihah tersebut terletak pada ayat ke-5, “Iyyâka na‘budu wa iyyâka nasta‘‘în” (hanya kepada-Mu kami menyembah, dan hanya kepada-Mu kami memohon pertolongan) . Inilah paradigma Islam bahwa ibadah = kehidupan, dan kehidupan = ibadah.
Dengan paradigma tersebut, pengarang menawarkan manajemen hidup berbasiskan konstruksi Al-Fâtihah. Selain menghadirkan Rasulullah sebagai teladan, buku ini juga mendasarkan konsep paradigma pada beberapa filsuf, ulama, dan pemikir Muslim, yang semakin menegaskan Islam sebagai jalan sempurna untuk meraih kebahagiaan hidup, di dunia dan akhirat. Baca entri selengkapnya »
Tinggalkan sebuah Komentar
September 18, 2008 pada 4:56 pm (Buku, Buku Baru, M. Mursidi, Politik, Resensi)
Tags: McCain
Oleh: N. Mursidi *)
Judul buku : The Real McCain, Penulis : Cliff Schecter, Penerbit : Zahra, Jakarta, Cetakan : Pertama, Agustus 2008, Tebal buku : 218 halaman (termasuk indeks)
MENDEKATI hari pilpres 4 November, perseteruan Obama versus McCain semakin meruncing. Setelah Obama menggandeng John Biden, McCain melakukan terobosan menggaet Sarah Palin. Terobosan John McCain itu, tak lain untuk mendulang (18 juta) suara pemilih perempuan dari pendukung Hillary yang konon anti-Obama. Meski pun tak bisa ditepis bahwa popularitas Obama jauh lebih meroket dibandingkan dengan McCain, tapi gebrakan John McCain yang lebih senior, jelas tak bisa dipandang sebelah mata.
Lantas siapakah sebenarnya John McCain? Buku The Real McCain yang ditulis Cliff Schecter, salah seorang consultan dan komentator politik yang kerap mengisi acara pada MSNBC, CNN, National Public Radio, Air Amerika radio dan berbagai media nasional ini tak hanya sekadar dongeng tentang kehidupan John McCain. Lebih dari itu, buku ini mengungkap sisi gelap serta sepak terjang politik McCain yang penuh lika-liku dari lahir hingga jadi calon presiden ke-44 AS dari Partai Republik. Baca entri selengkapnya »
Tinggalkan sebuah Komentar
September 5, 2008 pada 4:01 pm (Buku, Buku Baru)
Tags: Laskar Pelangi
Oleh Asrori S. Karim, Hikmah September 2008
Kisah Ikal dan kawan-kawannya yang diceritakan dengan apik oleh Andrea Hirata dalam tetralogi Laskar Pelangi menginspirasi banyak kalangan.
- Sekian orang yang mengabdikan diri pada profesi tertentu tanpa pamrih mendadak mendapat energi baru.
- Sejumlah pemuda yang selalu resah tiba-tiba mendapat kekuatan batin baru untuk bangkit dari mental cengeng.
- Kalangan marginal, mendapat suntikan kepercayaan diri baru yang menyalak-nyalak.
- Orangtua jadi punya cara menuturi anak-anaknya.
- Pasangan muda jadi punya bahasa untuk mengungkapkan cinta.
- Gubernur, bupati, wali kota, jadi punya inovasi baru untuk memompa stamina warga yang lesu. Baca entri selengkapnya »
1 Komentar
September 4, 2008 pada 1:31 pm (Buku, Twilight)
Tags: Stephenie Meyer
Thu Sep 4, 1:34 AM ET
CANBER
RA, Australia (Reuters) – Stephenie Meyer, author of the best-selling young adult “Twilight” books, has put the fifth and final installment in the series on hold in protest after a partial draft was posted on the Internet.
Meyer, the U.S. author of “Twilight” and its sequels “New Moon,” “Eclipse” and “Breaking Dawn,” said she had a good idea of how the leak of “Midnight Sun” had happened, since so few copies had left her hands and each was unique.
The novel tells the love story of a human teenager named Bella and her vampire lover, Edward.
“The manuscript that was illegally distributed on the Internet was given to trusted individuals for a good purpose. I have no comment beyond that, as I believe that there was no malicious intent with the initial distribution,” she wrote in a posting on her website. Baca entri selengkapnya »
Tinggalkan sebuah Komentar
September 4, 2008 pada 1:09 pm (Buku, Harian Kompas, Oni Suryaman, Timbangan Buku)
Tags: How To Read
TIMBANGAN BUKU Kompas, Minggu
Oleh ONI SURYAMAN
Membaca adalah symbol sebuah peradaban. Ia membedakan peradaban maju dengan primitive, antara Negara maju dan Negara berkembang. Melihat begitu pentingnya membaca, ia pun dijadikan salah satu indeks bagi pembangunan manusia, yang sering dijadikan ukuran keberhasilan pembangunan sebuah Negara.
Membaca memiliki tiga fungsi. Pertama, memberikan informasi, misalnya dengan membaca Koran dan majalah. Yang kedua, memberikan hiburan, misalnya dengan membaca novel. Yang ketiga, yang paling penting tetapi sekaligus paling sulit, memberikan pengertian. Sebuah buku bisa saja memberikan pengertian sekaligus menghibur dan memberikan informasi. Baca entri selengkapnya »
1 Komentar
Agustus 7, 2008 pada 8:05 pm (Buku, Buku Baru, Resensi, Twilight)
Tags: Stephenie Meyer
BY SARA ROSE, Associated Press Writer Tue Aug 5, 2:00 AM ET
“Breaking Dawn” (Little, Brown and Company, 754 pages, $22.99) by Stephenie Meyer: The heartbreakingly beautiful vampires, loyal werewolves and emotionally torn humans are back for one last round in “Breaking Dawn,” the fourth and last installment in the fanatically loved “Twilight Saga” series.

It’s a book with some surprises. But the big event takes place near the tale’s beginning, leaving the rest of the pages free to detail (and detail, and detail) the shockwaves.
Like the other books in the series, “Breaking Dawn” is a story of a community of vampires living relatively peacefully among humans. It examine what happens when a vampire and human fall in love, and the implications for their friendships, families, and life itself.
Fans will enjoy a satisfying exploration of the relationship of the vampire Edward, the human Bella and the werewolf Jacob — a relationship reeling from a real curveball. The look at Bella and Edward takes the issues of freewill, sacrifice and self-interest to a new level.
Meanwhile the folks of Forks, Wash., where the vampires have located, have their own problems as the tenuous treaty between the vampires and werewolves is tested, stretched, and re-tested. Baca entri selengkapnya »
Tinggalkan sebuah Komentar
« Entri lama