September 28, 2008 pada 2:37 pm (Buku Baru, Gemar-Membaca, Resensi)
Tags: Pengantin
Oleh Rini Nurul Badariah
Judul asli: The Village Bride of Beverly Hills, Penulis: Kavita Daswani, Penerjemah: Gita Yuliani K. Penerbit: Gramedia Pustaka Utama, Tebal: 336 halaman, Cetakan: I, Juni 2008, Beli di: Togamas, Bandung, Skor: 8
Priyanka Sohni merasa lebih berarti di tempat kerjanya, kantor majalah Hollywood Insider. Walaupun orang-orang sering keliru menyebut namanya, terkaget-kaget oleh busananya yang etnis, dan berbagai
masalah kecemburuan rekan kerja timbul kemudian, Priya senantiasa tak sabar berada di kantor setiap bangun pagi. Ia masih canggung membangun keluarga baru bersama suaminya, Sanjay, melalui perjodohan khas tradisi India dan menapaki masa adaptasi di Amerika, disebabkan harus seatap dengan orangtua dan adik perempuan sang suami.
Prestasi Priya meroket. Tanpa disangka-sangka, kemampuannya bergaul dan membuat lawan bicara merasa nyaman melejitkannya ke posisi wartawan yang ia impikan. Priya harus menyembunyikan semua itu dari
keluarga mertuanya, termasuk Sanjay yang dalam segala hal senantiasa meminta pendapat dan izin orangtua. Priya menekan perasaan karena bahkan urusan pakaian pun diatur mertuanya, kendati ia telah
menandaskan tidak akan berbusana serba terbuka yang mempermalukan mereka. Baca entri selengkapnya »
& Komentar
September 28, 2008 pada 2:29 pm (Gemar-Membaca, Yahoo! News)
Tags: Financial Crisis
by Prashant Gopal
Sumber : Business Week via Yahoo! News Saturday, September 27, 2008
provided by 
The upheaval shaking Wall Street will hurt privileged enclaves as well as working-class neighborhoods from coast to coast. Find out which will fare the worst.

Flickr: floralgal |
| Darien, Conn. |
How many former Lehman Brothers bankers or AIG executives are likely to be buying a Park Avenue apartment or a home in Darien, Conn., this year? Most likely answer: not many at all.
As anyone who works on Wall Street, invests in the stock market, or just reads the newspapers knows, the past few weeks for the financials sector have been as ugly as Frankenstein’s sister. People have seen their net worth eviscerated, if not obliterated completely.
But Wall Street’s woes are going to have a direct impact on communities around the U.S.—and not just because the proposed $700 billion bailout will result in higher taxes for most Americans. The pain will spread beyond the banks themselves to their back-office and IT operations, accountants, lawyers, and other professional service employees who depend on work from finance companies. It will also reach regional banks across the country. Credit-card companies and firms that deal with auto loans are also vulnerable as the credit market tightens. Even Baca entri selengkapnya »
Tinggalkan sebuah Komentar
September 28, 2008 pada 1:50 pm (Buku, Harian Kompas, Resensi)
Tags: Buku Baru
Sumber : Kompas Minggu, 28 September 2008 | 03:00 WIB
Oleh A PRASETYANTOKO
Buku ini menarik karena ketika ditulis pada 1986 nyaris tidak diperhatikan orang. Di-”kemas ulang” dalam terbitan baru tahun 2008, justru pemikirannya kemudian dianggap sangat relevan dengan situasi akhir-akhir ini, saat pasar finansial mengalami gejolak drastis.
Henry Kaufman, tokoh pasar modal kontemporer, memberi kata pembuka yang menegaskan relevansi pemikiran Minsky di hari ini. Demikian pula dua pengikut pemikirannya, Dimitri B Papadimitiou dan L Randall Wray, memberikan kontekstualisasi yang sangat tajam terhadap pemikiran Minsky.
Apa esensi pemikiran di dalam buku ini? Berbeda dengan pemikir di zamannya, Minsky mengajukan argumen pokok, instabilitas finansial sebenarnya berasal dari dalam dirinya sendiri (endogen) dan bukan dari luar (eksogen). Secara lebih eksplisit dia jelaskan, kekacauan ekonomi atau finansial bukanlah karena perang, kenaikan harga minyak, huru-hara sosial politik atau bencana alam. Tetapi karena sifat alamiahnya yang spekulatif. Baca entri selengkapnya »
Tinggalkan sebuah Komentar
September 28, 2008 pada 1:42 pm (Gemar-Membaca, Harian Kompas, Resensi)
Tags: PERINGATAN
Sumber : Kompas Senin, 22 September 2008 | 03:00 WIB
Oleh Ninok Leksono
Rangkaian peringatan 100 tahun Mohammad Natsir telah usai, dipuncaki dengan peluncuran buku dan situs
internet tokoh ini pada Rabu (17/9) petang lalu.
Salah satu buku itu adalah 100 Tahun Mohammad Natsir-Berdamai dengan Sejarah yang berisi 38 tulisan kenangan dari berbagai tokoh. Sementara buku lainnya adalah Capita Selecta 3 yang berisi tulisan dan pidato Natsir dari tahun 1956 dan 1960. (Catatan: Capita Selecta 1 memuat tulisan Natsir dalam rentang 1936-1941, berisi pemikiran tentang kebudayaan, filsafat, pendidikan, agama, ketatanegaraan, dan politik, sedangkan Capita Selecta 2 memuat tulisan, pidato, dan wawancara Natsir dari tahun 1950-1955. Di dalam buku kedua inilah terdapat pidato monumental Natsir yang dikenal dengan sebutan ”Mosi Integral Natsir”.)
Dalam acara yang dihadiri oleh Menteri Sosial Bachtiar Chamsyah dan sekitar 400 undangan, sosok Natsir seolah kembali ke dalam ruangan, dengan kenangan akan ketokohannya, kejujurannya, dan keteguhannya terhadap prinsip. Baca entri selengkapnya »
Tinggalkan sebuah Komentar
September 28, 2008 pada 1:34 pm (Buku Baru, Harian Kompas, Resensi)
Tags: Buku Baru
Sumber : Kompas Senin, 22 September 2008 | 03:00 WIB
Oleh Ismah Salman
Nanang Qosim Yusuf, penulis muda berbakat sekaligus penulis buku laris The 7 Awareness, menulis ”kapsul kecil yang mujarab” yang dapat menyembuhkan penyakit hati dan pencerahan kalbu. Tulisannya dapat menyentuh lubuk hati yang paling dalam untuk memunculkan kesadaran insan dalam beragama dan mengamalkan ajaran agama.
Tulisannya dikemas sedemikian rupa, disajikan dengan bahasa yang mudah dipahami oleh berbagai kalangan yang berbeda usia dan profesi. Sajiannya menarik bagai mutiara, dirangkai indah menghias kalbu seorang Muslim yang beriman dan berpuasa.
Tulisan ini membahas tiga materi besar sebagai anak tangga yang harus dilalui seseorang yang berharap puasanya sebagai wadah untuk menata diri sebagai Muslim yang beriman menuju derajat yang tertinggi, yaitu takwa di sisi Allah SWT, yaitu tafakur, tadabur, dan tasyakur. Baca entri selengkapnya »
Tinggalkan sebuah Komentar
September 28, 2008 pada 1:30 pm (Gemar-Membaca, Harian Kompas, Sejarah)
Tags: SEJARAH DI MENTOK
Sumber : Kompas Senin, 22 September 2008 | 03:00 WIB
Tugu Bung Hatta di depan Pesanggrahan Mentok, terletak di pusat kota Mentok, Kabupaten Bangka Barat. Di
rumah itulah Bung Karno menghabiskan sebagian besar waktu saat diasingkan tahun 1949. Pesanggrahan itu kini menjadi penginapan.”Nak, kita harus berjuang terus. Pantang mundur!” Kalimat itu membekas dalam ingatan RA Indrawati (79) kendati diucapkan 59 tahun silam oleh Ir Soekarno. Kata-kata presiden pertama RI yang diasingkan ke Bangka itulah yang mengobarkan semangat Indrawati untuk terus berjuang mengusir Belanda yang hendak menguasai kembali Indonesia.
Indrawati—pekerja palang merah TKR di Mentok—tidak sendiri. Masyarakat Residentie Banka Belliton en onderhorigheden alias Keresidenan Bangka Belitung waktu itu begitu bersemangat mempertahankan kemerdekaan. Kehadiran sejumlah negarawan ke tempat yang disebut pengasingan meninggalkan sebuah kesan tersendiri, terutama bagi warga Bangka, terlebih yang berdomisili di Mentok. Baca entri selengkapnya »
& Komentar
September 20, 2008 pada 9:16 am (Aminuddin Siregar, Gemar-Membaca, Karl May)
Tags: Karl May
Pembuktian Tanggung Jawab
Senin, 7 Juli 2008 | 02:16 WIB
ANUNG WENDYARTAKA
Bagi pencinta buku petualangan karya penulis legendaris Jerman, Karl May, di Indonesia saat ini, sebagian besar pasti mengenal sosok pria tinggi besar, berbadan tegap, dan sekilas mirip orang Indian, yaitu Pandu Ganesa atau dalam surat elektronik ia sering memakai nama Gono.
Tak diragukan lagi, munculnya kembali Karl May di negeri ini, seperti kata sastrawan Seno Gumira Ajidarma dalam buku Menjelajah Negeri Karl May, tak terlepas dari usaha dan sepak terjang tak kenal lelah dari pengusaha kelahiran Kota Kediri 55 tahun silam ini.
Karya-karya Karl May yang sudah banyak dikenal sejak zaman Hindia Belanda, dan edisi bahasa Indonesianya pernah digandrungi masyarakat Indonesia sekitar tahun 1950 hingga tahun 1970-an, beberapa tahun lalu sempat menghilang. ”Dari riset saya di berbagai media di sini, selama tahun 1980 hingga tahun 2000-an memang hampir enggak ada orang yang pernah menyentuh Karl May. Satu-satunya orang Indonesia yang menyentuh hanya Seno (Gumira Ajidarma) tok. Itu tahun 1992,” ungkap Pandu Ganesa. Baca entri selengkapnya »
Tinggalkan sebuah Komentar
September 20, 2008 pada 9:01 am (Harian Kompas, Uncategorized)
Sumber : Harian Kompas Kamis, 14 Agustus 2008 | 03:00 WIB
Medan, Kompas – Dari 9.097 guru di Sumatera Utara yang lulus sertifikasi oleh Universitas Negeri Medan, hingga saat ini baru 30 guru yang mendapatkan tunjangan profesi. Mayoritas guru yang lulus sertifikasi, tetapi belum mendapat tunjangan profesi, karena mereka belum bisa memenuhi syarat harus mengajar selama 24 jam seminggu.
Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan Provinsi Sumut Delta Pasaribu mengungkapkan, guru yang sudah mendapat tunjangan profesi berasal dari Kabupaten Simalungun sebanyak lima orang dan Kabupaten Karo sebanyak 25 orang. Sumut mendapatkan kuota sertifikasi guru sebanyak 12.105 orang.
”Ini yang mesti dipahami semua pihak bahwa tunjangan profesi tidak serta-merta diperoleh guru ketika mereka lulus sertifikasi. Masih ada dua syarat lain yang harus dipenuhi, yakni mendapat nomor induk registrasi guru bersertifikat dan sudah menjalani 24 jam tatap muka dengan murid selama seminggu,” ungkap Delta di Medan, Rabu (13/8) Baca entri selengkapnya »
Tinggalkan sebuah Komentar
September 20, 2008 pada 8:53 am (Buku Baru, Harian Kompas)
Buku Baru
Sumber : Harian Kompas Senin, 7 Juli 2008 | 02:10 WIB
Seperti juga novel sebelumnya, yang berjudul September (2007), novel Noorca M Massardi yang berjudul d.I.a., cinta dan presiden (2008) pun mengisahkan kejadian yang diambil dari rangkaian kisah politik yang benar-benar terjadi.
Hanya saja, pada novel September, setting politiknya diambil dari kejadian nyata pada tahun 1965 dan tahun-tahun sesudahnya, sedangkan pada novel d.I.a., cinta dan presiden, setting politiknya diambil dari kejadian nyata pada tahun 1998 dan tahun-tahun sesudahnya. Baca entri selengkapnya »
Tinggalkan sebuah Komentar
September 20, 2008 pada 8:44 am (Harian Kompas)
Tags: Add new tag
Siahaan Bantah Faktor Kedekatan
Sumber : Harian Kompas, Jumat, 29 Agustus 2008 | 03:00 WIB
Medan, Kompas – Wali Kota Pematang Siantar RE Siahaan bersikukuh akan tetap mempertahankan 19 pegawai negeri sipil yang diduga tak mengikuti seleksi penerimaan calon pegawai negeri sipil sesuai ketentuan. Siahaan juga membantah tudingan bahwa pegawai negeri sipil tersebut merupakan kerabat dekat pejabat.
Sikap Siahaan mempertahankan ke-19 pegawai negeri sipil (PNS) di Pemkot Pematang Siantar yang bermasalah ini karena menurut dia belum ada instruksi langsung dari Menteri Negara Pendayagunaan Aparatur Negara (PAN) Taufiq Effendi. Padahal, oleh Badan Kepegawaian Negara (BKN), nomor induk pegawai dari ke-19 PNS itu telah dibatalkan. BKN telah meminta kepada Wali Kota Pematang Siantar untuk memberhentikan ke-19 PNS ini.
”Saya tak bisa asal memberhentikan mereka. Kan SK (surat keputusan) memberikan nomor induk pegawai itu ada pada Menneg PAN dan Kepala BKN. Jadi, harus merekalah yang membatalkan SK tersebut, kenapa harus saya? Tidak bisa main paksa agar saya membatalkan SK pengangkatan ke-19 PNS tersebut,” ujar Siahaan di Medan, Rabu (27/8). Baca entri selengkapnya »
Tinggalkan sebuah Komentar
« Entri lama